Sebuah Surat dari Fayakhun Andriadi



FayakhunAndriadi turut menyoroti pengemis cilik di tengah kota. Sebuah pemandangan umum yang menurut saya tidak normal, tidak manusiawi, namun terlihat sepanjang hari : pengemis cilik. Menurut Fayakhun Andriadi sebuah ironi, di tengah hiruk pikuk kehidupan warga kota Jakarta yang seakan tak pernah lelah beradu nyali untuk menyasar paradigma peningkatan kualitas hidup, terlihat anak-anak kecil yang seharusnya melewatkan masa kanak-kanak yang indah, secara tidak manusiawi dipaksa oleh entah siapa, menjadi pengemis di banyak titik di kota, bahkan di pusat keramaian tengah-tengah kota, di depan obyek-obyek turisme, berusaha bertahan hidup, berusaha ikut menikmati kualitas hidup yang dihasilkan dengan mengemis. Mengemis setiap hari, termasuk hari libur, hingga jam 12 malam, tidak peduli kondisi panas terik, gerimis, hingga hujan lebat, mereka terus di jalanan mengemis. Bagi Fayakhun Andriadi Sungguh pemandangan yang sadis.
Fayakhun Andriadi berpendapat, pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkesan melakukan pembiaran. Hujaman kritik paradigmatik terus mengalir, hanya saja Anda sebagai Gubernur DKI seakan-akan tidak menghiraukannya. Padahal, kebanyakan pengemis tersebut masih sangat belia, anak-anak di bawah umur. Bagi Fayakhun Andriadi masa–masa yang semestinya mereka habiskan untuk memaksimalkan tumbuh kembang fisik dan mentalnya, malah mereka gunakan untuk sekadar melantunkan lagu-lagu picisan di sudut-sudut kota demi mendapatkan belas kasihan berupa uang dari mobil-mobil yang berhenti di lampu lalu lintas, para penumpang angkutan umum atau pengendara sepeda motor yang tampak menyemut. Masa-masa dimana seharusnya mereka mendapat asupan gizi dan pengetahuan yang baik, bukan justru mendapati kerasnya kehidupan di jalanan ibu kota.
Pak Gubernur, keluh Fayakhun Andriadi, di sisa masa jabatan anda sebagai Gubernur DKI Jakarta 2007-2012, saya rindu melihat tindakan nyata dan spektakuler anda anda menyelamatkan masa depan pengemis anak-anak di jalanan ibu kota. Sekiranya anda belum punya prestasi yang bisa dibanggakan hingga saat sekarang, berharaplah ini bisa menjadi prestasi monumental anda dan diingat selalu oleh warga DKI Jakarta.
Kedua, Joki 3 in 1. Saban hari, kecuali hari libur, joki 3 in 1 mengular di bahu-bahu jalan menjelang jalan protokol yang ditetapkan sebagai kawasan 3 in 1. Fenomena ini mempertontonkan kepada masyarakat betapa lemahnya wibawa Pemda DKI Jakarta. Atau, mungkin memang anda tidak mempunyai kepedulian sama sekali terhadap kewibawaan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fayakhun Andriadi Bersuara Soal Pembelian Kapal Induk Bekas Spanyol