Sebuah Surat dari Fayakhun Andriadi
Fayakhun
Andriadi berpendapat, pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkesan
melakukan pembiaran. Hujaman kritik paradigmatik terus mengalir, hanya saja
Anda sebagai Gubernur DKI seakan-akan tidak menghiraukannya. Padahal,
kebanyakan pengemis tersebut masih sangat belia, anak-anak di bawah umur. Bagi Fayakhun Andriadi masa–masa yang
semestinya mereka habiskan untuk memaksimalkan tumbuh kembang fisik dan
mentalnya, malah mereka gunakan untuk sekadar melantunkan lagu-lagu picisan di
sudut-sudut kota demi mendapatkan belas kasihan berupa uang dari mobil-mobil yang
berhenti di lampu lalu lintas, para penumpang angkutan umum atau pengendara
sepeda motor yang tampak menyemut. Masa-masa dimana seharusnya mereka mendapat
asupan gizi dan pengetahuan yang baik, bukan justru mendapati kerasnya
kehidupan di jalanan ibu kota.
Pak Gubernur, keluh Fayakhun Andriadi, di sisa masa jabatan
anda sebagai Gubernur DKI Jakarta 2007-2012, saya rindu melihat tindakan nyata
dan spektakuler anda anda menyelamatkan masa depan pengemis anak-anak di
jalanan ibu kota. Sekiranya anda belum punya prestasi yang bisa dibanggakan
hingga saat sekarang, berharaplah ini bisa menjadi prestasi monumental anda dan
diingat selalu oleh warga DKI Jakarta.
Kedua, Joki 3 in 1. Saban
hari, kecuali hari libur, joki 3 in 1 mengular di bahu-bahu jalan menjelang
jalan protokol yang ditetapkan sebagai kawasan 3 in 1. Fenomena ini
mempertontonkan kepada masyarakat betapa lemahnya wibawa Pemda DKI Jakarta.
Atau, mungkin memang anda tidak mempunyai kepedulian sama sekali terhadap
kewibawaan itu.
Komentar
Posting Komentar