Fayakhun Andriadi Bersuara Soal Pembelian Kapal Induk Bekas Spanyol
Fayakhun Andriadi ikut
berbicara soal, di media Spanyol, berkembang rumor baru-baru ini yang
membeberkan minat Filipina dan beberapa negara Arab untuk membeli kapal induk
Angkatan Laut Spanyol “Principe de Asturias”.
Selain
Filipina dan beberapa negara Arab tersebut, juga dilaporkan (lavozdigital.es),
Indonesia pun pernah menyatakan minatnya untuk mengakuisisi kapal induk ini.
Akan
tetapi, setelah kunjungan resmi delegasi TNI AL ke pangkalan Angkatan Laut ‘El
Ferrol’ Spanyol untuk memeriksa “Principe de Asturias” pada akhir Maret lalu,
Indonesia dikabarkan memutuskan untuk tidak membeli kapal induk ini. Walau
tidak ada tindak lanjut dari Indonesia, pihak Spanyol tetap membuka pintu bagi
Indonesia untuk kemungkinan penjualan. Inilah yang disoroti oleh Fayakhun Andriadi.
Diakui Amerika
Merespons
situasi tersebut, Anggota Komisi I DPR RI, Fayakhun
Andriadi menilai, Indonesia sebaiknya lebih mengutamakan upaya memperkuat
sistem pertahanan maritim dengan berbasis pada kondisi pulau-pulau kecil, garis
pantai yang panjang serta laut dangkal.
“Penguatan
pertahanan kelautan kita berbasis gatra laut dangkal di sekitar Nusantara,
merupakan keunggulan Indonesia. Dan itu pun pernah diakui oleh seorang Admiral
Amerika Serikat (AS) ketika menyaksikan latihan bersama Angkatan Laut antara
TNI-AL dengan angkatan laut mereka beberapa tahun lalu,” ungkap Fayakhun Andriadi.
Fayakhun Andriadi
mendukung upaya-upaya pihak TNI, khususnya TNI-AL yang terus berupaya memperkuat
pertahanan maritim Nusantara. “Karena kita memang Negara Kepulauan
(‘Archipelagic State’) terbesar di dunia dengan kepemilikan garis pantai di
atas 81.000 Km, atau nomor dua di dunia,” tutur Fayakhun Andriadi.
Kendati
begitu, menurut politisi muda Partai Golkar dari daerah pemilihan (Dapil)
Jakarta ini, pengadaan kapal induk memang bisa menjadi skenario strategis untuk
jangka panjang. “Terutama menghadapi kondisi geo-strategis global, karena
Kepulauan Nusantara berada di antara dua Samudara Raya Dunia, yakni Samudera
Indonesia (Hindia) dan Samudera Pasifik,” demikian Fayakhun Andriadi yang jebolan program master politik Universitas
Indonesia (UI) ini.
Ngotot dijual
Sementara
itu, dari Spanyol diberitakan, Kapal Induk “Principe de Asturias” secara resmi
dinonaktifkan pada Februari 2013, untuk dipisah menjadi bagian-bagian kecil.
Namun rencana awal ini berubah setelah Departemen Pertahanan Spanyol dikabarkan
menerima permintaan penjualan kapal induk ini dari beberapa negara. Angkatan
Laut Spanyol pun agaknya ‘ngotot kapal ini dijual dengan mengatakan, sudah ada
pembeli potensial (kemungkinan Filipina), namun belum terwujud dalam transaksi
penjualan.
Disebutkanpula,
penjualan kapal induk tersebut menjadi skenario terbaik untuk masa depan kapal
ini. Di satu sisi, akan mengalirkan uang ke kas negara dan untuk Angkatan Laut
Spanyol, di tengah pemotongan anggaran akibat krisis ekonomi. Namun skenario
penjualan ini dinilai masih sangat “jauh”.
“Principe
de Asturias” merupakan kapal induk buatan galangan kapal Bazan (Navantia)
Spanyol. Diluncurkan pada tahun 1982 dan masuk ke jajaran Angkatan Laut Spanyol
baru pada tahun 1988. Kapal ini memliki panjang 195,9 meter dan lebar 24,3
meter. Total kapal induk yang memiliki kecepatan 26 knot ini bisa membawa 29
pesawat dan helikopter.
Apa
mungkin militer asing akan membeli kapal ini? Tentunya militer asing harus
berpikir matang karena kapal induk ini akan membutuhkan biaya upgrade yang
tidak sedikit.
Sumber: SolusiNews, Rabu
29/05/2013
Komentar
Posting Komentar