Kiat Terbebas Utang ala Fayakhun



Anda pasti pernah merasakan seperti yang Fayakhun rasakan, yakni kebingungan karena dikejar-kejar hutang. Ya, hampir setiap manusia tidak bisa lepas dari hutang-piutang, baik dalam jumlah kecil maupun besar. Apalagi kebutuhan hidup yang dirasa begitu tinggi, terkadang memaksa kita untuk berhutang. Meski hutang bukan pilihan, tetapi kadang kita tidak bisa menghindar. Hutang serasa menjadi kebutuhan, meski sebenarnya hutang bukanlah kebutuhan.
Ketika dililit hutang, kita tentu berusaha pontang-panting untuk melunasinya. Apalagi ketika jatuh tempo pembayaran, sementara kita belum memiliki uang, bisa dipastikan kita sempoyongan mencari solusi. Kalau tidak menjual barang-barang, mencari pinjaman untuk menutup pinjaman sebelumnya pun akan dilakukan. Ini sah-sah saja, tapi kita hanya akan berkutat pada hutang, gali lubang tutup lubang istilahnya.
Karena itu, agama Islam mengajarkan kita agar terbebas dari lilitan hutang. Terbebas bukan berarti tidak memiliki hutang, tetapi tidak bergantung pada hutang, dan jika berhutang pun mudah untuk melunasi hutang. Berikut Fayakhun berikan tips agar kita tidak mudah terlilit utang :
Pertama, kita harus merubah mindset atau pola pikir bahwa hutang bukanlah kebutuhan. Hutang hanya diperlukan dalam keadaan mendesak atau kepepet. Meski agama Islam tidak melarang berhutang, sebagaimana Nabi saw juga pernah berhutang, tetapi agama Islam menekankan agar umatnya tidak senang berhutang.
Kedua, memprioritaskan kebutuhan dari pada keinginan. Dalam analisa Fayakhun, kebutuhan dan keinginan merupakan dua hal yang senantiasa berkelindan dalam kehidupan. Seringkali kita tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan piranti primer yang harus dipenuhi, sedangkan keinginan adalah pelengkap atau sekunder. Kebutuhan jika belum terpenuhi bisa mengacaukan pola hidup, sedangkan keinginan jika belum terpenuhi tidak berdampak signifikan pada hidup.
Sebagai contoh, seseorang yang bekerja di tempat jauh membutuhkan kendaraan untuk transportrasi. Ini adalah kebutuhan, karenanya dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhinya. Sebenarnya dia hanya membutuhkan sepeda motor, itu sudah mencukupi. Ini karena pendapatannya baru cukup untuk membeli sepeda motor. Tetapi, dia bersikukuh ingin membeli mobil. Akhirnya, dia pun berhutang kesana-kemari untuk membeli mobil, atau membeli mobil dengan kredit. Sikap dia untuk membeli mobil disebut keinginan, yang sebenarnya tidak harus dipenuhi. Dia baru mampu membeli sepeda motor, mengapa harus memaksakan diri membeli mobil? Akhirnya hutang menjadi sasaran.
Ketiga, ketika kita terpaksa berhutang untuk memenuhi kebutuhan, maka berhutanglah sesuai dengan kemampuan. Artinya, kita berhutang sesuai dengan kadar kemampuan kita untuk membayarnya. Bukan malah memperbesar rasio hutang, sementara kemampuan kita untuk membayarnya belum menjangkau. Kadang kita mudah tergiur dengan tawaran-tawaran hutang dari lembaga tertentu karena mereka memberi kemudahan dalam proses peminjaman maupun pengembalian. Akhirnya kita berani hutang dengan jumlah yang banyak, karena dalam benak kita, kita menganggap enteng hutang tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fayakhun Andriadi Bersuara Soal Pembelian Kapal Induk Bekas Spanyol