Fayakhun Bicara Soal Politik Digital di Indonesia
Menurut fayakhun Kemunculan Barack Obama sebagai orang kulit hitam yang berhasil menjadi
Presiden AS waktu itu menarik perhatian berbagai kalangan. Para politisi,
dosen, intelektual, pengamat media, dan berbagai ahli turut bicara. Tidak
ketinggalan pula Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, Fayakhun Andriadi,
turut bicara menyoroti fenomena tersebut.
Pada tahun 2014, Fayakhun Andriadi
melalui akun kompasiana.com menulis ulasan panjang lebar bagaimana proses Obama
mampu menjadi Presiden AS karena didukung oleh teknologi informasi digital.
Fayakhun menulis : “Pada tahun 2007, Chris Hughes yang kala itu baru berusia 23
tahun, menandatangani kontrak kerja dengan sebagai Tim Sukses Kampanye Barack
Obama. Hughes adalah teman sekamar Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, sewaktu
di Harvard University dan turut membantu pengembangan jaring sosial
tersebut.Saat itu, Obama tak diunggulkan. Pamornya jauh dibawah Hillary
Clinton.”
Fayakhun Bicara Soal Politik Digital
“Melihat fakta tersebut, Hughes berujar soal
strategi apa yang cocok untuk menutupi ketertinggalan Obama, dan secara instan
bisa menyalip Hillary,”Jika Obama ingin menang, ia perlu memiliki strategi
kampanye yang secara cepat didukung banyak orang. Tidak ada cara lain untuk
melakukannya selain internet.” Resep Hughes terbukti manjur. Dan Hughes bukan
satu-satunya anak muda dalam tim sukses kampanye Obama. Ada banyak wajah muda
lainnya disana”, lanjut Fayakhun.
Fayakhun mengutip fakta diatas berdasarkan
data yang ditemukan dalam buku Grown Up Digital: How the Net Generation Is
Changing Your World (2009) karya Don Tapscott. Penulis buku itu, kata
Fayakhun, membeberkan fakta tentang pentingnya teknologi digital sebagai faktor
yang mengantarkan Obama menjadi Presiden kulit hitam pertama di Amerika
Serikat.
“Melalui kampanye digital, Obama berhasil
memikat generasi muda negeri itu, yang tergolong sebagai pemilih pemula, untuk
turut serta mengkampanyekan dan mensosialisasikan Obama melalui media digital.
Bahkan, mereka rela “merayu” publik AS untuk bersedia menyumbang dana kampanye
Obama. Alhasil, menurut Tapscott, pemilih pemula AS yang sebelumnya sangat
apatis terhadap politik dan tidak mau berurusan dengan politik meski secuil,
tiba-tiba menjadi sangat gandrung dengan politik dan menaruh harapan besar pada
sosok Obama,” tulis Fayakhun.

Komentar
Posting Komentar